Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Setan Itu Ada,Kartena Itu Ia Berbisik,"Tuhan Tidak Ada"


Setan atau Iblis itu yakin akan adanya Tuhan, sebab ia pernah bertemu dengan-Nya. Tapi ia tidak mau mengikuti perintah Tuhan.

Saya mengerti kenapa orang itu tidak beriman pada Tuhan. Sebab dirinya telah dikuasai setan, atau ia pengikut setan. Setan itu akan berbisik di dalam diri kita bahwa Tuhan tidak ada. Setelah itu ia pun berbisik, setan itu tidak ada. Sehingga pendapatmu tentang Tuhan tidak ada, itu bukan dari setan, tapi dari dirimu sendiri.

Setan itu cerdik. Orang pintar jika sudah dikelabuinya, akan mengatakan bahwa ilmunya yang mampu menghilangkan peranan Tuhan di dalam kehidupan ini adalah kebenaran hakiki.

Jika anda berpikir membunuh dan mencuri itu salah, dan menolong orang itu kebaikan. Berarti anda masih mendengar suara Tuhan.

Tapi, jika anda merasakan sesuatu di dalam diri semacam: lakukanlah apa-apa sekehendakmu, nikmatilah hidup ini meski harus merugikan orang lain: seperti mencuri, memperkosa, sex bebas (sex bebas merugikan orang lain, sederhanya menyakiti hati orang tua), menipu rakyat dll. Itu artinya setan sedang merayu Anda.

Adanya rayuan setan itu bukti adanya Tuhan. Sebab setan menginginkan manusia tidak percaya pada Tuhan. Karena setan tahun, bahkan meyakininya bahwa Tuhan itu ada.

10 Cara Agar Kita Beriman Pada Tuhan


  1. Iman Yang Tak Terhindarkan
    Setiap orang mempercayai sesuatu. Tidak seorang pun yang dapat menanggung tekanan dan masalah hidup tanpa beriman kepada sesuatu yang tak sepenuhnya dapat dibuktikan. Orang atheis tidak dapat membuktikan bahwa Allah tidak ada. Orang pantheis tidak dapat membuktikan bahwa segala sesuatu adalah Allah. Kaum pragmatis tidak dapat membuktikan asumsi mereka bahwa sesuatu dianggap penting karena bermanfaat bagi mereka. Orang agnotis pun tidak dapat membuktikan bahwa Allah tidak mungkin diketahui. Iman tidak dapat dihindari, sekalipun jika kita memilih untuk hanya percaya pada diri kita sendiri. Sesungguhnya apa yang kita putuskan adalah mengenai bukti yang kita anggap paling cocok, bagaimana kita menafsirkan bukti tersebut, dan siapa atau apa yang kita ingin percayai (Lukas 16:16).
  2. Keterbatasan Ilmu Pengetahuan
    Metode ilmu pengetahuan terbatas oleh suatu proses yang terukur dan dapat diulang, sehingga ia tidak dapat berbicara tentang asal usul kehidupan, makna dan moralitas. Untuk menjawab hal-hal itu, ilmu pengetahuan bergantung pada nilai dan keyakinan pribadi dari mereka yang menggunakan ilmu tersebut, dan karena itu pula, ia sangat berpotensi baik untuk kebaikan maupun kejahatan. Ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk membuat vaksin atau racun, membuat tenaga nuklir untuk tanaman atau persenjataan, untuk melestarikan lingkungan hidup atau mencemarinya, bahkan untuk memuliakan Allah maupun melawan Allah. Ilmu pengetahuan itu sendiri tidak mampu memberikan bimbingan moral atau nilai-nilai untuk mengatur hidup kita. Apa yang dapat dilakukannya adalah memperlihatkan kepada kita bagaimana cara kerja hukum alam, tetapi tidak dapat menjelaskan apa-apa tentang asal-usulnya.
  3. Masalah-Masalah Evolusi
    Banyak orang berasumsi bahwa teori evolusi tentang kehidupan membuat Allah tidak dibutuhkan. Pandangan demikian mengabaikan beberapa hal. Jika kita berasumsi suatu saat nanti ilmuwan menemukan cukup banyak "rantai yang hilang" untuk mengkonfirmasi bahwa kehidupan muncul dan berkembang secara bertahap dalam rentang waktu yang panjang, hukum-hukum probabilitas tetap memperlihatkan bahwa kita membutuhkan Sang Pencipta. Karena itu pula banyak ilmuwan yang percaya kepada teori evolusi juga percaya bahwa alam semesta yang sedemikian besar dan kompleks ini tidak "terjadi begitu saja". Mereka mau tidak mau harus mengakui kemungkinan, atau bahkan kepastian, adanya Perancang berintelijensi tinggi yang menyediakan segala unsur untuk hidup dan yang menetapkan hukum-hukum agar semua unsur itu dapat berkembang.
  4. Kecenderungan-Kecenderungan Hati
    Umat manusia pada dasarnya adalah makhluk religius. Pada saat mengalami kejutan atau kesusahan mendadak, ketika berdoa atau mengumpat, seseorang biasanya merujuk pada hal-hal yang ilahi. Mereka yang menganggap gejala ini sebagai kebiasaan buruk atau penyimpangan sosial malah diperhadapkan pada banyak pertanyaan yang tak terjawab. Menyangkal keberadaan Allah tidaklah dapat menghilangkan misteri kehidupan. Walau kita mencoba mengeluarkan Allah dari kehidupan sehari-hari, kita tidak akan dapat menghalau kerinduan kita kepada kehidupan yang lebih baik dari kehidupan saat ini (Pengkotbah 3:11). Ada sesuatu tentang kebenaran, keindahan, dan cinta yang membuat hati kita nyeri. Bahkan dalam kemarahan kita kepada Allah yang mengijinkan ketidak-adilan dan sakit-penyakit, kita sesungguhnya sedang menggunakan suatu kesadaran moral untuk berargumentasi bahwa kehidupan saat ini tidak berjalan sebagaimana seharusnya (Roma 2:14-15). Sekalipun tanpa sengaja, kita sesungguhnya sedang mencari sesuatu yang lebih baik, bukannya yang lebih buruk, dari diri kita sendiri.
  5. Latar Belakang Kitab Kejadian
    Dengan membaca sekilas, kata-kata pembukaan Alkitab tampaknya berasumsi bahwa Allah itu ada. Bagaimana pun kitab Kejadian ditulis pada waktu tertentu dalam sejarah. Musa menulis kalimat, "Pada mulanya Allah," sesudah bangsa Israel keluar dari Mesir. Dia menulis hal itu sesudah terjadinya pelbagai peristiwa mujizat yang disaksikan oleh jutaan orang Israel dan Mesir. Dari kitab Keluaran sampai kedatangan Mesias, Allah yang diceritakan Alkitab membuktikan diri-Nya ada melalui peristiwa-peristwa yang dapat disaksikan di dalam waktu dan tempat yang nyata. Siapa pun yang meragukan klaim-klaim tersebut dapat mengunjungi tempat-tempat dan orang-orang yang nyata untuk membuktikannya bagi diri mereka sendiri.
  6. Bangsa Israel
    Israel sering digunakan sebagai argumentasi untuk melawan Allah. Banyak orang sulit percaya pada Allah yang bersikap memihak pada satu "umat pilihan." Ada lagi yang lebih sulit percaya pada Allah yang tidak melindungi "bangsa pilihan-Nya" dari kamar-kamar gas Nazi di Auschwitz dan Dachau. Tetapi sesungguhnya semenjak Perjanjian Lama, masa depan Israel telah dinubuatkan. Seperti nabi-nabi lain, Musa menubuatkan bukan saja bahwa Israel akan memiliki tanah perjanjian, tetapi bahwa mereka akan mengalami penderitaan yang tak terkira, tersebar ke seluruh pelosok bumi, pertobatan mereka kepada Allah, dan pemulihan mereka pada akhir jaman (Ulangan 28-34; Yesaya 2:1-5; Yehezkiel 37-38).
  7. Klaim-Klaim Tentang Kristus
    Banyak orang yang mulanya ragu pada keberadaan Allah telah kembali meyakinkan diri mereka dengan pemikiran, "Jika Allah ingin kita percaya kepada-Nya, Dia pasti akan menyatakan diri-Nya kepada kita." Menurut Alkitab, itulah yang Allah lakukan. Pada abad ke-7 SM, nabi Yesaya bernubuat bahwa Allah akan memberi umat-Nya suatu tanda. Seorang perawan akan melahirkan seorang Anak laki-laki yang akan disebut "Allah beserta kita" (Yesaya 7:14; Matius 1:23). Bahwa Anak ini juga akan disebut "Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai" (Yesaya 9:5). Dan bahwa Dia akan mati untuk dosa-dosa umat-Nya dan kemudian Dia akan melihat hidup-Nya dihormati dan dipermuliakan (Yesaya 53). Menurut Perjanjian Baru, Yesus mengklaim diri-Nya sebagai Mesias. Di bawah pemerintahan Gubernur Romawi yang bernama Pontius Pilatus, Dia disalibkan dengan tuduhan bahwa Dia mengklaim diri-Nya sebagai Raja Israel dan bahwa Dia telah menyamakan Diri-Nya setara dengan Allah (Yohanes 5:18).
  8. Bukti Dari Mukjizat-Mukjizat
    Sejumlah laporan dari para pengikut Yesus yang mula-mula sepakat bahwa Yesus bukan hanya mengklaim diri sebagai Mesias yang sudah lama dinantikan. Para saksi ini mengatakan bahwa Dia dipercaya oleh mereka karena Dia menyembuhkan orang lumpuh, berjalan di atas air, kemudian secara sukarela mengalami kematian yang menyakitkan dan yang tidak patut Dia terima, dan akhirnya Dia bangkit dari kematian (I Korintus 15:1-8). Yang paling tidak terbantah adalah klaim mereka bahwa banyak saksi telah melihat dan berbicara dengan Kristus setelah kubur-Nya ditemukan kosong dan sebelum menyaksikan dengan mata kepala sendiri Dia naik ke surga. Para saksi ini tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari klaim-kaim yang mereka buat. Mereka tidak mengharapkan kekayaan harta-benda atau kekuasaan. Bahkan banyak dari mereka yang mati martir, tetapi sampai akhir hayat mereka tetap mengklaim bahwa Mesias yang dinantikan bangsa Israel telah hadir di tengah mereka, bahwa Dia telah menjadi korban penebusan dosa, dan bahwa Dia telah bangkit dari kematian untuk meyakinkan mereka bahwa Dia mampu membawa mereka kepada Allah.
  9. Detil-Detil Dari Alam Semesta
    Ada orang yang percaya kepada Allah tetapi tidak menganggap keberadaan-Nya secara serius. Mereka beralasan bahwa Allah yang cukup besar untuk menciptakan alam semesta ini pasti terlalu besar untuk memperhatikan kita. Sebaliknya Yesus justru memperkuat apa yang alam ini hendak katakan melalui rancangan dan detil-detilnya. Yesus memperlihatkan bahwa Allah cukup besar untuk memperhatikan detil hidup kita yang paling kecil sekalipun. Dia berbicara mengenai Allah yang tahu bukan saja setiap tindakan kita, tetapi juga motivasi dan pikiran-pikiran dalam benak kita. Yesus mengajarkan bahwa Allah tahu jumlah rambut di kepala kita, keinginan-keinginan hati kita, dan bahkan keadaan seekor burung pipit yang terjatuh ke bumi (Mazmur 139; Matius 6).
  10. Kenyataan Dari Pengalaman
    Alkitab berkata bahwa Allah merancang hidup kita sedemikian rupa sehingga kita terdorong untuk mencari Dia (Kisah Para Rasul 17:26). Bagi mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia, Alkitab juga berkata bahwa Allah cukup dekat untuk ditemukan (ayat 27). Menurut Rasul Paulus, Allah adalah Roh yang di dalam-Nya "kita hidup, kita bergerak, dan kita ada," (ayat 28). Tetapi Alkitab juga sangat jelas mengajarkan bahwa kita harus menghampiri Allah sesuai dengan cara-cara Allah, bukan menurut kemauan kita sendiri. Dia berjanji untuk dapat ditemui, bukan oleh setiap orang, tetapi oleh mereka yang mengakui kebutuhan mereka dan yang bersedia sungguh-sungguh percaya kepada Allah dan bukan percaya kepada diri mereka sendiri.
  11. Anda Tidak Sendirian jika anda dapat mengakui keberadaan Allah tetapi ragu-ragu apakah anda dapat menerima klaim Yesus bahwa Dia adalah "Allah yang menjadi manusia". Orang dari Nazaret ini berjanji menolong mereka yang ingin melakukan kehendak Allah. Dia berkata, "Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari Diriku sendiri," (Yohanes 7:17). Jika Anda percaya pada bukti tentang Allah yang menyatakan diri-Nya kepada kita melalui Anak-Nya, anda perlu mengingat perkataan Alkitab bahwa Kristus mati untuk dosa-dosa kita, dan bahwa siapa pun yang percaya kepada-Nya akan menerima pengampunan dosa dan kehidupan kekal. Keselamatan yang ditawarkan Kristus bukanlah upah untuk usaha kita, tetapi suatu anugerah bagi mereka, yang melalui bukti-bukti yang tersedia, mau percaya kepada Dia.
     
    Sumber: http://ensiklopedia-highschool.blogspot.com/2010/04/10-cara-meyakini-keberadaan-tuhan.html

Kisah Penyaliban Yesus Menurut Islam,Kristen, Dan Ahmadiyah

Kisah Penyaliban Yesus Menurut Islam, Kristen dan Ahmadiyah - Polemik yang paling tajam dan mendasar antara Islam, Kristen dan Ahmadiyah adalah perbedaan teologi mengenai doktrin penyaliban Yesus di tiang salib.

Secara tegas, Islam mengajarkan bahwa Nabi Isa tidak mati dibunuh maupun disalib dalam Al-Qur’an surat An-Nisa 157: “wamaa qataluuhu wama shalabuuhu walakin syubbiha lahum” (mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang lain yang diserupakan dengan Isa bagi mereka).

Para ulama dan mufassir sejak masa permulaan Islam sampai saat ini sepakat (ijma’) bahwa satu-satunya maksud ayat ini adalah membantah dugaan pembunuhan dan penyaliban Nabi Isa AS. Orang-orang Yahudi dan Romawi gagal menangkap Nabi Isa, apalagi membunuh dan menyalibnya, karena beliau diselamatkan Allah SWT. Penafsiran ini diperkuat dengan ujung surat An-Nisa’ 157:

http://www.suara-islam.com/news/images/stories/ahmadiyah-bubarkan-hi.jpg


“Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.”

Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan fakta yang sebenarnya bahwa Nabi Isa tidak dibunuh maupun disalib. Al-Qur'an menepis peristiwa pembunuhan dan penyaliban Nabi Isa, tapi Al-Qur'an mengonfirmasi terjadinya pembunuhan dan penyaliban pada diri orang lain yang diserupakan dengan Nabi Isa.

Dengan pemahaman demikian, maka Prof Dr H Mahmud Yunus dalam Tafsir Al-Qur’anul Karim menerjemahkan ayat tersebut, “Sebenarnya Isa itu bukan mereka bunuh atau mereka salibkan, tetapi yang mereka salib itu, adalah orang yang serupa dengan Isa, yang telah dibuat samar” (hlm. 94).

Prof Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menyatakan, “Syubbiha artinya disamarkan. Yaitu diadakan orang lain, lalu ditimbulkan sangka dalam hati orang yang hendak membunuh itu bahwa orang lain itulah Isa” (Juz 6 hlm. 21).

Bagaimana mungkin Nabi Isa AS terbunuh atau tersalib, padahal Allah SWT melindungi para rasul Ulul Azmi semuanya? Allah telah menyelamatkan Nabi Nuh dari tenggelam, Nabi Ibrahim dari Api, Nabi Musa dari Fir’aun, Nabi Isa dari Yahudi dan Nabi Muhammad dari makar kaum musyrikin.

Berbeda dengan Islam yang menolak mentah-mentah mitos penyaliban Yesus, umat Kristen justru menekankan doktrin penyaliban Yesus untuk menebus dosa manusia. Kematian Yesus di tiang salib harus diimani secara mutlak, sebagai satu-satunya syarat keselamatan kristiani. Tanpa mengimani penyaliban Yesus, batallah iman kristiani seseorang. Karena dalam 12 Pengakuan (Credo/Syahadat) Iman Rasuli, penyaliban Yesus termasuk dalam pengakuan keempat: “Yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati, dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut.”

Paulus dalam Bibel membuat rumusan bahwa dengan kematian di tiang salib, Yesus berkorban untuk menyelamatkan dosa manusia, agar umatnya beroleh pengampunan dan hidup yang kekal.

“Ia (Yesus, pen.) sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib…” (I Petrus 2:24).

“Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita…” (I Petrus 3:18).

“…Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8).

Meski penyaliban adalah inti dogma kristiani, uniknya kronologis kisah penyaliban dalam Bibel sangat simpang siur dan penuh kontradiktif.

Mengenai waktu penyaliban misalnya, Injil Markus 15:25 menyatakan bahwa Yesus disalib pada jam 9. Sementara Injil Yohanes 19:14 menceritakan bahwa pada jam 12 Yesus belum disalib, karena baru persiapan paskah. Sementara Injil Matius dan Lukas tidak menjelaskan jam berapa Yesus disalibkan. Jika sosok Yesus yang diyakini sebagai penebus dosa itu hanya ada satu orang, mengapa Bibel melaporkan dua kali waktu penyaliban? Jika Injil Markus dan Injil Yohanes diyakini kebenarannya, mungkinkah Yesus disalib dua kali pada waktu yang berlainan?

Berbeda dengan Islam dan Kristen, konsep akidah Ahmadiyah tentang Nabi Isa mengoplos keyakinan Islam dan Kristen. Mereka meyakini bahwa Nabi Isa benar-benar disalib, tapi tidak sampai mati melainkan hanya pingsan saja.

Mirza Ghulam Ahmad, pendiri dan nabi kaum Ahmadi, menekankan bahwa Nabi Isa benar-benar ditangkap, disiksa dan disalibkan tapi tidak sampai mati. Menurut nabi palsu ini, Nabi Isa disalib hanya sampai pingsan saja, lalu melarikan diri ke kampung Ahmadiyah di Kashmir dan meninggal di sana. Hal ini dijelaskan Syafi R Batuah, Sekretaris Tabligh PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia berikut:

“Salah satu ajaran Hazrat Mirza Ghulam Ahmad ialah yang beliau jelaskan dalam buku bahasa Urdu berjudul “Masih Hindustan Men” (Almasih di India). Dalam buku itu, beliau menjelaskan bahwa Nabi Isa AS tidak meninggal di atas salib tapi hanya pingsan. Setelah siuman kembali beliau meninggalkan Palestina dan menuju daerah-daerah sebelah timur untuk menyampaikan ajaran-ajaran beliau kepada suku-suku Israil yang hilang. Akhirnya beliau tiba di Kashmir dan meninggal di sana dalam umur 120 tahun. Untuk menguatkan pendirian itu, Hazrat Imam Mahdi memberikan dalil-dalil yang diambil dari Bibel dan kitab-kitab tarikh” (Syafi R Batuah, Nabi Isa dari Palestina ke Kashmir, 1970, hlm. 5).

Kehadiran Ahmadiyah dengan doktrin semi Islam-Kristen, tidaklah menjadi penengah atas polemik Islam dan Kristen, justru melahirkan akidah aneh hasil oplosan Al-Qur'an dan Bibel yang diaduk dengan kitab- kitab sejarah. Tentunya, dengan melahirkan polemik teologis baru pula.
Ahmadiyah, Kristen Bukan Islam pun Tidak!!

Nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad merumuskan doktrin bahwa Nabi Isa disalib hingga pingsan tapi tidak sampai mati. Dalam keadaan pingsan, jasad Nabi Isa diselamatkan oleh para muridnya kemudian hidup wajar lalu hijrah, meninggal dan dikuburkan di Srinagar, Kashmir.

Untuk menyesuaikan ajaran Al-Qur'an dengan akidah warisan Mirza Ghulam Ahmad tersebut, para ulama Ahmadiyah merekayasa tafsir Al-Qur'an yang menyelelisihi penafsiran para ulama dan mufassir yang mu’tabar. Misalnya, Maulana Muhammad Ali dalam kitab tafsirnya yang menjadi rujukan Jemaat Ahmadiyah, mengomentari An-Nisa’ 157 sebagai berikut:

“Kalimat ‘ma-shalabuhu’ ini tak sekali-sekali mendustakan disalibnya Nabi Isa pada kayu palang; kalimat ini hanya mendustakan wafatnya Nabi Isa pada kayu palang sebagai akibat penyaliban…” (The Holy Qur’an Arabic Text, English Translation and Commentary, edisi Indonesia: Qur’an Suci Teks Arab, Terjemah dan Tafsir Bahasa Indonesia, hlm. 259).

Penafsiran model baru ini belum pernah dilakukan oleh para ulama dan mufassir baik di kalangan salafus shalih maupun ulama kontemporer.

Penyimpangan terhadap terjemahan Al-Qur'an yang lebih mencolok dilakukan oleh Syafi R Batuah dalam buku Nabi Isa dari Palestina ke Kashmir. Dengan lancangnya, ia menerjemahkan ayat “wamaa qataluuhu wama shalabuuhu walakin syubbiha lahum” dalam surat An-Nisa’ 157 sbb:

“…Tidaklah mereka membunuhnya (sampai mati) dan tidak pula mereka menyalibnya (sampai mati), melainkan disamarkan (keadaannya itu) kepada mereka…” (hlm 8).

Penafsiran versi kaum Ahmadi ini terdapat tahrif (insersi/penyisipan). Nas ayatnya jelas berbunyi “wamaa qataluuhu” (tidak membunuhnya) dan “wama shalabuhu” (tidak menyalibnya) tanpa ada embel-embel kata apapun. Penambahan kata “sampai mati” ini di ambil darimana kalau bukan tahrif untuk mencocokkan penafsiran Al-Qur'an dengan doktrin nabi palsu mereka? Bukankah dalam nas Al-Qur'an tidak ada embel-embel “hatta yamuta” (sampai mati)?

Penerjemahan batil yang dilakukan oleh kaum Ahmadi ini menyelisihi para penerjemah dan penafsir yang mu’tabar di Indonesia, antara lain: Prof Dr Buya Hamka (Tafsir Al-Azhar), Tim Departemen Agama RI (Al-Qur'an dan Terjemanya), Prof TM Hasbi Ash-Shiddieqy (Tafsir Al-Bayan), A Hassan (Tafsir Al-Furqan), Prof Dr H Mahmud Yunus (Tafsir Qur’an Karim), Bachtiar Surin (Tafir Adz-Dzikra), H Oemar Bakri (Tafsir Rahmat), Tim Disbintalad: Drs HA Nazri Adlany, Drs H Hanafie Tamam dan Drs HA Faruq Nasution (Al-Qur'an Terjemah Indonesia), dan lain-lain.

Penafsiran Al-Qur'an versi kaum Ahmadi ini memperkeruh kontroversi teologis, baik dengan Islam maupun Kristen. Selain itu, penerjemahan An-Nisa’ 157 versi Ahmadi ini tergolong gharib (aneh).

Dengan keyakinan baru bahwa Nabi Isa menderita penyaliban tapi tidak sampai mati melainkan hanya pingsan saja, sepintas Ahmadiyah sesuai dengan doktrin Kristen. Di sisi lain, keyakinan bahwa Nabi Isa tidak mati di tiang salib, sekilas mirip akidah Islam. Ahmadiyah dengan Islam dan Kristen, nyaris serupa tapi tak sama: Lebih tepatnya dengan dalil dalil-dalil Al-Qur'an yang dioplos dengan Bibel dan buku sejarah, lahirlah doktrin “Krislam” Ahmadiyah yang aneh: Kristen bukan, Islam pun tidak!!  
 
( suara-islam.com )

Sejarah Permusuhan Yahudi Terhadap Agama Islam

Permusuhan Yahudi terhadap Islam sudah terkenal dan ada sejak dahulu kala. Dimulai sejak dakwah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan mungkin juga sebelumnya bahkan sebelum kelahiran beliau. Hal ini mereka lakukan karena khawatir dari pengaruh dakwah islam yang akan menghancurkan impian dan rencana mereka. Namun dewasa ini banyak usaha menciptakan opini bahwa permusuhan yahudi dan islam hanyalah sekedar perebutan tanah dan perbatasan Palestina dan wilayah sekitarnya, bukan permasalahan agama dan sejarah kelam permusuhan yang mengakar dalam diri mereka terhadap agama yang mulia ini.
Padahal pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan eksistensi, bukan persengkataan perbatasan. Musuh-musuh islam dan para pengikutnya yang bodoh terus berupaya membentuk opini bahwa hakekat pertarungan dengan Yahudi adalah sebatas pertarungan memperebutkan wilayah, persoalan pengungsi dan persoalan air. Dan bahwa persengketaan ini bisa berakhir dengan (diciptakannya suasana) hidup berdampingan secara damai, saling tukar pengungsi, perbaikan tingkat hidup masing-masing, penempatan wilayah tinggal mereka secara terpisah-pisah dan mendirikan sebuah Negara sekuler kecil yang lemah dibawah tekanan ujung-ujung tombak zionisme, yang kesemua itu (justeru) menjadi pagar-pagar pengaman bagi Negara zionis. Mereka semua tidak mengerti bahwa pertarungan kita dengan Yahudi adalah pertarungan lama semenjak berdirinya Negara islam diMadinah dibawah kepemimpinan utusan Allah bagi alam semesta yaitu Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam

Demikianlah permusuhan dan usaha mereka merusak Islam sejak berdirinya Negara islam bahkan sejak Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hijrah ke Madinah sampai saat ini dan akan berlanjut terus. Walaupun tidak tertutup kemungkinan mereka punya usaha dan upaya memberantas islam sejak kelahiran beliau n . hal ini dapat dilihat dalam pernyataan pendeta Buhairoh terhadap Abu Thalib dalam perjalanan dagang bersama beliau diwaktu kecil. Allah Ta’ala telah jelas-jelas menerangkan permusuhan Yahudi dalam firmanNya:
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (Qs. 5:82)
Melihat demikian panjangnya sejarah dan banyaknya bentuk permusuhan Yahudi terhadap Islam dan Negara Islam, maka kami ringkas dalam 3 marhalah;

Marhalah pertama:
Upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa awal perkembangan dakwah islam dan cara mereka dalam hal ini.

Diantara upaya Yahudi dalam menghalangi dakwah Islam di masa-masa awal perkembangannya adalah:
  1. Pemboikotan (embargo) Ekonomi: Kaum muslimin ketika awal perkembangan islam di Madinah sangat lemah perekonomiannya. Kaum muhajirin datang ke Madinah tidak membawa harta mereka dan kaum Anshor yang menolong mereka pun bukanlah pemegang perekonomian Madinah. Oleh karena itu Yahudi menggunakan kesempatan ini untuk menjauhkan kaum muslimin dari agama mereka dan melakukan embargo ekonomi. Para pemimpin Yahudi enggan membantu perekonomian kaum muslimin dan ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus Abu Bakar menemui para pemimpin Yahudi untuk meminjam dari mereka harta yang digunakan untuk membantu urusan beliau dan berwasiat untuk tidak berkata kasar dan tidak menyakiti mereka bila mereka tidak memberinya. Ketika Abu Bakar masuk Bait Al Midras (tempat ibadah mereka) mendapati mereka sedang berkumpul dipimpin oleh Fanhaash –tokoh besar bani Qainuqa’- yang merupakan salah satu ulama besar mereka didampingi seorang pendeta yahudi bernama Asy-ya’. Setelah Abu Bakar menyampaikan apa yang dibawanya dan memberikan surat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam kepadanya. Maka ia membaca sampai habis dan berkata: Robb kalian butuh kami bantu! Tidak hanya sampai disini saja, bahkan merekapun enggan menunaikan kewajiban yang harus mereka bayar, seperti hutang, jual beli dan amanah kepada kaum muslimin. Berdalih bahwa hutang, jual beli dan amanah tersebut adanya sebelum islam dan masuknya mereka dalam islam menghapus itu semua. Oleh karena itu Allah berfirman:Di antara Ahli Kitab ada orang yang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaranmereka mengatakan:”Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (Qs. 3:75) 
  2. Membangkitkan fitnah dan kebencian: Yahudi dalam upaya menghalangi dakwah islam menggunakan upaya menciptakan fitnah dan kebencian antar sesama kaum muslimin yang pernah ada di hati penduduk Madinah dari Aus dan Khodzraj pada masa jahiliyah. Sebagian orang yang baru masuk islam menerima ajakan Yahudi, namun dapat dipadamkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam . diantaranya adalah kisah yang dibawakan Ibnu Hisyam dalam Siroh Ibnu Hisyam (2/588) ringkas kisahnya: Seorang Yahudi bernama Syaas bin Qais mengutus seorang pemuda Yahudi untuk duduk dan bermajlis bareng dengan kaum Anshor, kemudian mengingatkan mereka tentang kejadian perang Bu’ats hingga terjadi pertengkaran dan mereka keluar membawa senjata-senjata masing-masing. Lalu hal ini sampai pada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. maka beliau shallallahu ’alaihi wa sallam segera berangkat bersama para sahabat muhajirin menemui mereka dan bersabda:يَا مَعْشَر المُسْلِمِيْنَ اللهَ اللهَ أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَ أَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ بَعْدَ أَنْ هَدَاكُمُ اللهُ لِلإِسْلاَمِ وَ أَكْرَمَكُمْ بِهِ وَ قَطَعَ بِهِ أَمْرَ الْجَاهِلِيَّةِ وَاسْتَنْقَذَكُمْ بِهِ مِنَ الْكُفْرِ وَ أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ “Wahai kaum muslimin alangkah keterlaluannya kalian, apakah (kalian mengangkat) dakwah jahiliyah padahal aku ada diantara kalian setelah Allah tunjuki kalian kepada Islam dan muliakan kalian, memutus perkara Jahiliyah dan menyelamatkan kalian dari kekufuran dengan Islam serta menyatukan hati-hati kalian.” Lalu mereka sadar ini adalah godaan syetan dan tipu daya musuh mereka, sehingga mereka mengangis dan saling rangkul antara Aus dan Khodzroj. Lalu mereka pergi bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dengan patuh dan taat yang penuh. Lalu Allah turunkan firmanNya: Katakanlah: ”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan. Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan.” Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (Qs. 3:99)
  3. Menyebarkan keraguan pada diri kaum muslimin: Orang Yahudi berusaha memasukkan keraguan di hati kaum muslimin yang masih lemah imannya dengan melontarkan syubhat-syubhat yang dapat menggoyahkan kepercayaan mereka terhadap islam. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya: Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran). (Qs. 3:72). Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan pernyataan: Ini adalah tipu daya yang mereka inginkan untuk merancukan perkara agama islam kepada orang-orang yang lemah imannya. Mereka sepakat menampakkan keimanan di pagi hari (permulaan siang) dan sholat subuh bersama kaum muslimin. Lalu ketika diakhir siang hari (sore hari) mereka murtad dari agama Islam agar orang-orang bodoh menyatakan bahwa mereka keluat tidak lain karena adanya kekurangan dan aib dalam agama kaum muslimin.
  4. Memata-matai kaum Muslimin: Ibnu Hisyam menjelaskan adanya sejumlah orang Yahudi yang memeluk Islam untuk memata-matai kaum muslimin dan menukilkan berita Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan yang ingin beliau lakukan kepada orang Yahudi dan kaum musyrikin, diantaranya: Sa’ad bin Hanief, Zaid bin Al Lishthi, Nu’maan bin Aufa bin Amru dan Utsmaan bin Aufa serta Rafi’ bin Huraimila’. Untuk menghancurkan tipu daya ini Allah berfirman:Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata:”Kami beriman”; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka):”Marilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Qs. 3:118-119)
  5. Usaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam: Orang Yahudi tidak pernah henti berusaha memfitnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, diantaranya adalah kisah yang disampaikan Ibnu Ishaaq bahwa beliau berkata: Ka’ab bin Asad, Ibnu Shaluba, Abdullah bin Shurie dan Syaas bin Qais saling berembuk dan menghasilkan keputusan berangkat menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam untuk memfitnah agama beliau. Lalu mereka menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata: Wahai Muhammad engkau telah tahu kami adalah ulama dan tokoh terhormat serta pemimpin besar Yahudi, Apabila kami mengikutimu maka seluruh Yahudi akan ikut dan tidak akan menyelisihi kami. Sungguh antara kami dan sebagian kaum kami terjadi persengketaan. Apakah boleh kami berhukum kepadamu lalu engkau adili dengan memenangkan kami atas mereka? Maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam enggan menerimanya. Lalu turunlah firman Allah: Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Qs. 5:49)
Semua usaha mereka ini gagal total dihadapan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan Allah membalas makar mereka ini dengan menimpakan kepada mereka kerendahan dan kehinaan.
Marhalah kedua:
Masa perang senjata antara Yahudi dan Muslimin di zaman Rasulullah
shallallahu ’alaihi wa sallam.
Orang Yahudi tidak cukup hanya membuat keonaran dan fitnah kepada kaum muslimin semata bahkan merekapun menampakkan diri bergabung dengan kaum musyrikin dengan menyatakan permusuhan yang terang-terangan terhadap islam dan kaum muslimin. Namun Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tetap menunggu sampai mereka melanggar dan membatalkan perjanjian yang pernah dibuat diMadinah. Ketika mereka melanggar perjanjian tersebut barulah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan tindakan militer untuk menghadapi mereka dan mengambil beberapa keputusan untuk memberikan pelajaran kepada mereka. Diantara keputusan penting tersebut adalah:
  1. Pengusiran Bani Qainuqa’
  2. Pengusiran bani Al Nadhir
  3. Perang Bani Quraidzoh
  4. Penaklukan kota Khaibar
Setelah terjadinya hal tersebut maka orang Yahudi terusir dari jazirah Arab.
Marhalah ketiga:
Tipu daya dan makar mereka terhadap islam setelah wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
Orang Yahudi memandang tidak mungkin melawan Islam dan kaum muslimin selama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masih hidup. Ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam wafat, orang Yahudi melihat adanya kesempatan untuk membuat makar kembali terhadap Islam dan muslimin. Mereka mulai merencanakan dan menjalankan tipu daya mereka untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya. Namun tentunya mereka lakukan dengan lebih baik dan teliti dibanding sebelumnya. Sebagian target mereka telah terwujud dengan beberapa sebab diantaranya:
  1. Kaum muslimin kehilangan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
  2. Orang Yahudi dapat mengambil pelajaran dan pengalaman dari usaha-usaha mereka terdahulu sehingga dapat menambah hebat makar dan tipu daya mereka.
  3. Masuknya sebagian orang Yahudi ke dalam Islam dengan tujuan memata-matai kaum muslimin dan merusak mereka dari dalam tubuh kaum muslimin.
Memang berbicara tentang tipu daya dan makar Yahudi kepada kaum Muslimin sejak wafat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam hingga kini membutuhkan pembahasan yang panjang sekali. Namun rasanya cukup memberikan 3 contoh kejadian besar dalam sejarah Islam untuk mengungkapkan permasalahan ini. Yaitu:
  1. Fitnah pembunuhan khalifah UtsmanIni adalah awal keberhasilan Yahudi dalam menyusup dan merusak Islam dan kaum muslimin. Tokoh yahudi yang bertanggung jawab terjadinya peristiwa ini adalah Abdullah bin Saba’ yang dikenal dengan Ibnu Sauda’. Kisahnya cukup masyhur dan ditulis dalam kitab-kitab sejarah Islam.
  2. Fitnah Maimun Al Qadaah dan perkembangan sekte Bathiniyah. Keberhasilan Abdullah bin Saba’ membuat fitnah di kalangan kaum Muslimin dan mengajarkan saba’isme membuat orang Yahudi semakin berani. Sehingga belum habis fitnah Sabaiyah mereka sudah memunculkan tipu daya baru yang dipimpin seorang Yahudi bernama Maimun bin Dieshaan Al Qadaah dengan membuat sekte Batiniyah di Kufah tahun 276 H. Imam Al Baghdadi menceritakan: Diatara orang yang membangun sekte Bathiniyah adalah Maimun bin Dieshaan yang dikenal dengan Al Qadaah seorang maula bagi Ja’far bin Muhammad Al Shodiq yang berasal dari daerah Al Ahwaaz dan Muhammad bin Al Husein yang dikenal dengan Dandaan. Mereka berkumpul bersama Maimun Al Qadah di penjara Iraaq lalu membangun sekte Bathiniyah.Tipu daya Yahudi ini terus berjalan dalam bentuk yang beraneka ragam sehingga sekte ini berkembang menjadi banyak sekali sektenya dalam kaum muslimin, sampai-sampai menghalalkan pernikahan sesama mahrom dan hilangnya kewajiban syariat pada seseorang.
  3. Penghancuran kekhilafahan Turki Utsmani ditangan gerakan Masoniyah dan akibat yang ditimbulkan berupa perpecahan kaum muslimin.Orang Yahudi mengetahui sumber kekuatan kaum muslimin adaalh bersatunya mereka dibawah satu kepemimpinan dalam naungan kekhilafahan Islamiyah. Oleh karena mereka segera berusaha keras meruntuhkan kekhilafahan yang ada sejak zaman Khulafa’ Rasyidin sampai berhasil menghapus dan meruntuhkan negara Turki Utsmaniyah. Orang Yahudi memulai konspirasinya dalam meruntuhkan Negara Turki Utsmaniyah pada masa sultan Murad kedua (tahun 834-855H) dan setelah beliau pada masa sultan Muhammad Al Faatih (tahun 855-886H) yang meningal diracun oleh Thobib beliau seorang Yahudi bernama Ya’qub Basya. Demikian juga berhasil membunuh Sultan Sulaiman Al Qanuni (tahun 926-974H) dan para cucunya yang diatur oleh seorang Yahudi bernama Nurbaanu. Konspirasi Yahudi ini terus berlangsung di masa kekhilafahan Utsmaniyah lebih dari 400 tahunan hingga runtuhnya di tangan Mushthofa Ataturk.
Orang Yahudi dalam menjalankan rencana tipu daya mereka menggunakan kekuatan berikut ini:
  1. Yahudi Al Dunamah. Diantara tokohnya adalah Madhaat Basya dan Mushthofa Kamal Ataturk yang memiliki peran besar dan penting dalam penghancuran kekhilafahan Utsmaniyah.
  2. Salibis Eropa yang sangat membenci islam dan kaum muslimin dengan melakukan perjanjian kerjasama dengan beberapa Negara eropa yaitu Bulgaria, Rumania, Namsa, Prancis, Rusia, Yunani dan Italia.
  3. Organisasi bawah tanah/rahasia, khususnya Masoniyah yang terus berusaha merealisasikan tujuan dan target Zionis.
Usaha-usaha Musthofa Kamal Basya Ataturk dalam menghancurkan kekhilafahan setelah berhasil menyingkirkan sultan Abdulhamid kedua adalah:
  1. Pada awal November 1922 M ia menghapus kesultanan dan membiarkan kekhilafahan
  2. Pada tanggal 18 November 1922M ia mencopot Wahieduddin Muhammad keenam dari kekhilafahan.
  3. Pada Agustus 1923 M ia mendirikan Hizb Al Sya’b Al Jumhuriah (Partai Rakyat Republik) dengan tokoh-tokoh pentingnya kebanyakan dari Yahudi Al Dunamah dan Masoniyah.
  4. Pada tanggal 20 oktober 1923 M Republik Turki diresmikan dan Al Jum’iyah Al Wathoniyah (Organisasi nasional) memilih Musthofa Kamal sebagai presiden Turki.
  5. Pada tanggal 2 Maret 1924 M Kekhilafahan dihapus total.
Demikianlah sempurna sudah keinginan orang-orang Yahudi untuk menjadikan kekhilafahan sebagai Negara sekuler yang dipimpin seorang Yahudi yang berkedok muslim.
Mudah-mudahan ringkas sejarah permusuhan Yahudi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menjadi pelajaran bagi kaum muslimin.
***
Penulis: Ustadz Khalid Syamhudi, Lc.
Artikel UstadzKholid.com dikutip oleh www.muslim.or.id